
KITAB PUSAKA
Terjadi kekacauan dalam kerajaan, perebutan kekuasaan, beberapa kelompok mencari pengaruh, konflik horizontal, peperangan
beberapa orang pembesar bertarung memperebutkan sebiuah kotak pusaka, berlangsung seru, beberapa saat kemudian salah satu diantaranya telah berhasil menguasai kotak pusaka tersebut.
Jayantaka : hahahaha….. stop, (sambil mengangkat kotak wasiat) aku yang telah menguasai pusaka ini, tidak ada alasan untuk tidak tunduk patuh, sembada …… tarik mundur pasukanmu.
Sembada : sial, prajurit ….. mundur! Baiklah jayantaka, aku menjunjung tinggi sportifitas, diawal aturan main telah diberlakukan, pusaka itu sebagai simbul kekuasaan, karena kau yang telah mendapatkan pusaka itu, maka kau berhak atas kekuasaan itu. Tapi ingat satu hal, persoalan kita tidak akan selesai sampai disini, aku tetap masih menginginkan jabatan itu, aku tidak rela kalau keraton Kedung Poh ada ditanganmu jayantaka.
Jayantaka : hahahaha …… lalu kau akan menjadi oposisi, begitu? Itu sudah hal yang biasa, baik kelompok yang kalah akan kemudian mengadakan pembenaran-pembenaran diri dengan menjadi oposisi, selalu mengadakan pertentangan terhadap kebijakan yang dibuat penguasa, politik memang seperti itu sembada, dalam keadaan yang tertekan biasanya orang akan kemudian akn menjadi populis, populislah dulu kalau begitu, untuk mendapatkan dukungan masyarakat.
Sembada : Jayantaka, jaga bacotmu, aku bukanlah seorang politikis, aku ksatria …..
Jayantaka : hahahaha ….. silahkan kamu buat Brand Image pada masyarakat, kamu yakin dengan image ksatri dapat meraih dukungan, ya memang banyak yang berlatar belakan prajurit jadi pemimpin, tapi jangan lupa juga bisa juga kyai, seniman, atau aktifis sosial bisa digunakan senjata untuk mendapatkan dukungan.
Sembada : ( Jengkel ) Prajurit, ayo mundur.
Sembada dan prajurit exit.
Jayantaka : hahahaha ….. sembada, sembada ….. kamu perlu belajar banyak mengenai strategi.
Prajurit : Hidup prabu jayantaka ….!!!!!
Semua pendukung riuh mengelu-elukan prabu jayantaka
Punggawa : maaf Gusti, segera akan kita laksanakan penobatan gusti menjadi raja baru kerajaan kedung poh.
Jayantaka : segera saja, aku sudah tidak tahan lagi menunggu saat-saat itu.
Punggawa : Sendika
Punggawa : Berdasarkan SK kerajaan kedung Poh dan Atas nama seluruh rakyat kedung poh, bersepakat untuk menobatkan gusti prabu jayantaka sebagai Raja yang agung, dengan gelar gusti dyah watu ngambang.
Musik mengalun, semua memberi hormat.
Berok : walah, kementos, petentang-petenteng, terus gagah ngono po? Mbagusi. Durung mesti jedak menjadi pemimpin.
Romlah : walah, ganti raja lagi to? Siap-siap tambah rekasa lagi ini yu, la wong kebijakan-kebijakan yang kemarin saja masih dirasa memberatkan rakyat, ini kok malah sudah ganti orang lagi, pasti akan menambah kebijakan yang konyol lagi
Berok : orang kalo sudah diatas biasanya malah jadi bodho, tidak bijak dalam mengambil kebijakan, ra sembodo ketika dulu sebelum jadi pemimpin. Langkah dan kebijakan yang ditempuh biasanya tidak signifikan dengan program.
Romlah : wes ndak usah dipikir terlalu dalam yu, kamu ndak malah stress.
Berok : yang potensi stress itu bukan hanya aku saja je, termasuk juga kamu dan orang-orang yang ada disini juga punya potensi itu, ketika kemudian orang sudah makin tak kuat oleh himpitan ekonomi, kemudian akan mati rasa, hilang rasa kemanusiaannya.
Romlah : RSJ kebak…..
Berok : Jaman kethoprak durung ono RSJ ….
Musik mengalun.
Permaisuri masuk dengan kebingungan.
Permaisuri : Saraswati….. saras……. Saraswati…..
Emban masuk
Emban : ada apa gusti?
Permaisuri : mbok, dimana bendaramu putri? Seharian ini aku tidak melihatnya?
Emban : anu….. anu …. Nyuwun pangapunten, saya juga tidak mengerti ndara …
Permaisuri : Itu tanggung jawabmu untuk merawat dan mengawasi putriku saraswati. Kau katakan tidak tahu?! Bagaimana pertanggungjawabanmu?
Emban : mohon…. Mohon maaf gusti ……
Permaisuri : tidak hanya cukup itu, tanggung jawabmu temukan keberadaan putriku saraswati
Emban : La kemana ndara?
Permaisuri : malah nanya …..! cari sampai dapat!
Emban : Sendiko gusti ……
Permaisuri exit, diikuti emban
Jayantaka masuk, membuka baju dan atribut kebangsawanannya, diikuti asisten dibelakangnya.
Asisten : wah hebat tadi gaya gusti, dapat memukau. Pidato ekonomi, sosial, budaya nampak begitu cerdas, perlu kita beri reward penyusun naskahnya, program terasa jitu, itu juga tak lepas dari kemampuan gusti dalam berolah peran, acting, sadar panggung dan sadar kamera.
Jayantaka : ya, tapi udara begitu panas, apa AC mati?
Asisten : Memang sengaja dimatikan gusti, sebagai aksi simpatik hemat energi, sedang marak digalakkan.
Jayantaka : lalu bagaimana perkembangan informasi tentang tingkat kepercayaan masyarakat kepadaku.
Asisten : dari survey tim dilapangan sudah mulai terbangun image positif terhadap gusti, tapi memang ada kelompok-kelompok tertentu dan sebagian masyarakat yang terkadang menentang kebijakan yang dibuat. Tapi saya kira itu sangat wajar.
jayantaka : kamu tahu kebutuhan sebagai seorang penguasa semakin meningkat, apabila seseorang sudah dibebani oleh kebutuhan maka akan juga kreatif dalam usaha pemenuhannya.
Masuk permaisuri.
Permaisuri : oh, kangmas sudah rawuh to, selamat datang kangmas, mohon maaf apabila tidak dapat menyambut kehadiran kangmas.
Jayantaka : apakah kau terlalu sibuk?
Permaisuri : sebenarnya tidak juga, namun memang ada tanggungjawab-tanggung jawab tambahan yang harus saya lakukan. Tapi tidak masalah, karena saya sadar tanggung jawab itu ada karena status sebagai istri pejabat.
Jayantaka : tapi jangan lupa aktifitas sosialnya.
Permaisuri : tentu saja kangmas.sebagai seorang istri yang baik, aku selalu mengerti kebutuhan image sosial suaminya.
Jayantaka : itu yang aku maksud, karena selain sebagai ibu istri dan pengelola rumah tangga, engkau juga penpamping tugas suami, kekuatan laki-laki kuncinya ada pada istri.
Permaisuri : terimakasih atas kepercayaan kangmas.
Jayantaka : Tapi dimana putriku larasati?
Permaisuri : eeee … dia…. Eeee ….seharian ini saya juga mencarinya …..
Jayantaka : maksudmu ?
Permaisuri : larasati tidak dijumpai dikeputren.
Jayantaka : apa? Larasati tidak ada dikeputren? lalu dimana?
Permaisuri : eeee …. Sudah saya perintahkan embank untuk mencarinya ….
Jayantaka : hanya cukup seperti itu? Lalu nanti kalau terjadi sesuatu kepadanya bagaimana? Bagaimana pengawasanmu terhadap anak? Jangan kau bilang kau terlalu sibuk sehingga melalaikan anak. Itu sudah tanggung jawab utamamu. Aku tidak inginkan ada image yang muncul “ anak kita terlantar karena kesibukan orang tua” …
Permaisuri : lantas, bagaimana ….. kalau …..
Jayantaka : ah… lambat ….. asisten, perintahkan seluruh prajurit untuk mencari putriku, jangan sampai terjadi apa-apa. Tahu sendiri kalau sesuatu terjadi padanya. Segera laksanakan.
Asisten : baik, sendika gusti ……
Asisten exit.
Jayantaka : ini kesalahan fatalmu, bagaimana kalau ternyata larasati diculik orang? Kamu tidak tahu situasi politik sedang memanas? Larasati bisa saja dijadikan alat politik oleh sebuah kelompok. Apa kamu tidak pernah berfikir sejauh itu?
Permaisuri : eeee… iya… saya tidak berfikir sampai sejauh itu, saya anggap itu soal biasa ketika Larasati pergi dari keputren, karena beberapa kali saya jumpai pputri kita pergi dari keputren tanpa sepengetahuan kita.
Jayantaka : apa? Sudah separah itukah? Kenapa engkau baru menyampaikan itu sekarang?
Permaisuri : ampun kangmas, karena saya pikir …..
Jayantaka : ah ….. tolol ……
Jayantaka Exit
Permaisuri : oalah nduk, ini gara-gara kamu ….. kamui bikin susah orang tua saja. Mudah-mudahan tidak terjadi sesuatu padamu ….
Exit
Sembada dengan beberapa punggawanya
Sembada : kekalahan kita yang lalu sebagai pelajaran berarti bagi kita, kita harus rebut tahta itu, pusaka itu harus berpindah ketangan kita, karena itu adalah simbul kekuasaan.
Umbaran : segala perintah akan hamba laksanakan guna mensukseskan kemenangan itu.
Sembada : tugasmu adalah memindah tangankan pusaka itu, dari tangan jayantaka ke tanganku.
Umbaran : mohon maaf baginda, apa sbenarnya puaka itu, bagaimana bentuknya, dan apa keistimewaan dari pusaka tersebut?
Sembada : setahuku, pusaka itu berupa sebuah kitab sakti, dibungkus rapat oleh sebuah kotak berukir, tidak sembarang orang yang dapat membukanya, karena hanya orang yang mempunyai kesucian laku dan jiwa saja yang dapat membukanya.
Umbaran : lalu selama ini adakah orang yang telah mampu membuka kotak tersebut.
Sembada : Setahuku belum ada ……
Umbaran : termasuk juga para raja yang memegang pusaka tersebut?
Sembada : iya, karena kamu tahu sendiri, belum ada raja yang mempunyai itikad baik, yang ada dikepala dan hati mereka adalah kebusukan.
Umbaran : lalu gusti akan bermaksud membuka kotak pusaka tersebut?
Sembada : hahaha …… kamu membuatku malu, kalau bukan abdi terkasihku kau sudah aku bunuh. Sama sekali aku tidak bermaksud membuka dan melihat isi kotak wasit tersebut, karena aku juga menyadari siapa aku, yang aku butuhkan adalah dapat menguasai kotak tersebut. Dengan demikian aku juga bisa menguasai kerajaan.
Umbaran : maafkan hamba gusti, namun kalau memang demikian yang gusti inginkan, hamba bersedia menjalankan tanggung jawab tersebut, meskipun nyawa taruhannya.
Sembada : bagus, engkau memang abdiku yang setia. Sekarang dengan cara apapun rebut pusaka itu. Munculkan strategi ekonomi, sedikit gangguna keamanan, isu politik, buat masyarakat tidak percaya pada raja.
Umbaran : bagaimana kalau dengan TEROR gusti?
Sembada : eeeemmm …… menarik, tapi sejauh mana tingkat keberhasilan dengan metode teror?
Umbaran : kalaupun belum berhasil pula Plan B kemudian kami munculkan ….
Sembada : baiklah, segala sesuatu aku serahkan kepadamu ……..
Exit
Dipadepokan, saraswati masuk
Saraswati : kangmas karto….. kang ….. kangmas karto …..
Karto masuk
Karto : Lho Gusti putri kok sampai ditempat ini, aduh, ada apa gusti …..
Saraswati : memangnya tidak boleh kangmas? Aku ingin ketemu denganmu.
Karto : Waduh, ditempat ini tidak diperkenankan orang asing sembarangan masuk, apa lagi itu adalah seorang wanita. Lalu darimana gusti putri tahu tempat ini?
Saraswati : tidak sulit bagi saraswati menemukan tempat ini, dan tidak sulit untuk melacak keberadaanmu kangmas.
Karto : Gusti putri saya …….
Saraswati : Jangan panggil aku gusti putri …… saraswati namaku …….
Karto : gusti putri……..
Saraswati : Saraswati …..
Karto : Hamba tidak berani ……
Saraswati : Kenapa tidak berani?
Karto : Karena Panjenengan adalah putri Gusti prabu Jayantaka, raja kami.
Saraswati : apa pengaruhnya terhadapmu?
Karto : Tentu saja sangan berpengaruh, hamba harus berlaku sopan dan senantiasa menyembah kepada gusti putri
Saraswati : Jadi kalau aku memberikan perintah kepadamu kamu berkewajiban melaksanakan bukan?
Karto : benar
Saraswati : Kalau begitu panggil aku saraswati, ini perintah….!
Karto : Saras …. Saraswati ……
Saraswati : Kamu tahu, sebutan itu sungguh indah didengar, dan sudah beberapa waktu lalu aku ingin kau ucapkan dari bibirmu, sejak pertemuan pertama yang mengusikku.
Karto : ampun gusti ….. maksud hamba…. Saraswati ……. Mohon untuk dapat meninggalkan tempat ini karena ……
Terdengar suara dari dalam
Laras : Kakang karto, kang, kang karto ……
Saraswati : ooohhhh….. apakah karena itu kangmas menginginkan aku pergi ?
Karto : Bukan, tapi …..
Saraswati : Tapia pa, kalau begitu biarkan aku tetap disini …..
Karto : Jangan, aduh, aku mohon mengertilah …….. nanti akan…..
Laras : Kakang karto ……
Saraswati : Siapa dia ? istrimu? Kekasihmu?
Karto : Bukan …… sudahlah, mohon gusti putrid… saraswati menyingkr dari tempat ini…..
Saraswati : Tidak mau …….
Karto : Tolonglah …..
Saraswati : Tidak mau …….
Karto menarik saraswati lalu menyembunyikannya.
Laras masuk
Laras : oh, kakang disini to, dari tadi aku mencarimu, apa kakang tidak mendengar teriakanku tadi ?
Karto : Dengar …. Tapi ….
Laras : Kenapa tidak menjawab?
Karto : eeeee…. Anu…..
Laras : Rama mencarimu kang, tidak tahu ada apa, nampaknya ada sesuatu yang sangat penting hendak beliau sampaikan.
Karto : Dimana beliau ….. aku akan kesana …..
Masuk Begawan
Begawan : Kalian ada disini ternyata.
Karto : Guru, mohon maaf guru …. Ada hal apakah guru mencara saya, ada sesuatu yang penting?
Begawan : Tentu saja karto ….. duduklah dulu. Kalian tentu saja mengetahui bagaimana perkembangan suasana kerajaan akhir-akhir ini, makin parah. Terjadi banyak kenakalan, kerusuhan, para petinggi kerajaan sudah dengan kepentingan mereka sendiri-sendiri, rakyat makin sengsara, dengan kebijakan-kebijakan yang sudah tidak cerdas lagi, hanya emosional yang digunakan sebagai pengambil keputusan. Daya beli menurun, harga melambung tinggi, bahkan busung lapar dan gizi rendah diberbagai daerah. Diperkuat lagi kesengsaraan masyarakat dengan akan terus dinaikannya harga BBM dengan alasan yang malah membuka kedok para pemegang kekuasaan bahwa sudah tidak cerdas lagi. Ini menghawatirkan karto, perlu tindakan yang harus segera dilkaukan.
Karto : Lalu maksud guru ……?
Begawan : Aku sudah menganggapmu mampu untuk dapat membuat sebuah perubahan di negri ini, dengan intelektual dan kemampuanmu, guru percaya perubahan itu dapat kau wujudkan. Karto, sebenarnya ada salah penafsiran selama ini bagi para raja dalam mereka menjalankan tanggung jawabnya, mereka menganggap tanggung jawab itu hanya sebatas sebagai kekuasaan.
Kamu tahu, ada sebuah benda yang dianggap sebagai pusaka sebagai simbul kejayaan dan kekuasaan seorang raja pada kerajaan kedung poh?
Karto : Ya, saya juga mengetahui hal tersebut.
Begawan : Lalu apakah kamu tahu apakah benda itu?
Karto : Belum guru …..
Begawan : Itu adalah sebuah kitab, bukan barang yang istimewa, namun ada banyak ilmu sakti yang ada didalamnya, yang apabila orang mempelajarinya orang tersebut akan menjadi manusia yang luar biasa.
Yang orang tahu selama ini adalah hanya unsur luar dan fisiknya saja, namun sebenarnya bukan itu, benda itu tidak berarti apa-apa secra fisik, tidak ada kesaktiannya sama sekali, namun isi yang terkandung didalamnyalah yang dapat membuat orang itu sakti …..
Karto : Maksud guru ……..
Begawan : Tidak ada artinya apa-apa pusaka itu ditangan para raja, karena hanya sebagai pajangan, penghias, pencitraan dan simbol saja, tanpa mereka dapat baca dan amalkan, maka ditangan mereka pusaka itu hanya sebatas pajangan, tidak berpengaruh apa-apa bagi kualitas mereka untuk menjadi raja yang bijaksana.
Karta : Maaf guru, saya masih belum mengerti …..
Begawan : Karta, karta ….. ketahuilah, didalam kitab tersebut terdapat ilmu-ilmu tentang pemerintahan, budaya, sosial dan ilmu lain yang dapat membentuk manusia menjadi sakti dalam emosional, intelektual dan spiritual, memiliki jiwa yang bersih dan bermental seorang pemimpin. Maka barang siapa yang telah memilki kitab tersebut, kemudian mempelajari dan mengamalkan, maka dialah yang dapat menjadi seorang raja yang baik.
Karta : Ya, saya telah mengerti sekarang guru. Lalu apa kemudian yang harus hamba lakukan?
Begawan : Aku perintahkan kepada engkau untuk mengambil kitab tersebut, sayang kalau kitab tersebut tidak digunakan seperti yang seharusnya. Salah persepsinya tentang kitab itu akan semakin memperpuruk generasi ke generasi kepemimpinan kerajaan. Engkaulah yang nantinya harus mempelajari dan meluruskan dari fungsi keberadaan kitab tersebut.
Karta : Tapi …… apakah saya mampu melaksanakan tanggung jawab tersebut?
Laras : Kakang, apabila bapa sudah memberikan tanggung jawab tersebut kepada kakang, tentu saja sudah dengan pertimbangan bahwa kakang mampu untuk melaksanakan tanggung jawab tersebut.
Karta : Tapi laras, bukankah pengawalan di kerajaan sangat ketat ?
Laras : eeeee ….. iya rama, akan sangat membahayakan kakang karta, mohon dipertimbangkan lagi rama ……
Begawan : aku paham, sekarang bagaimana mencari siasat untuk meminimalkan resiko …..
Saraswati muncul
Saraswati : kangmas karta ….. aduh, teganya kangmas memasukkan aku kedalam tempat itu, pengab sekali ……
Karta malu, Begawan dan laras terkejut.
Laras : siapa dia kakang?
Karta : eeee… anu …… dia ……
Saraswati : kangmas, kenapa sih aku harus diumpetin? Apa ada masalah dengan keberadaanku? Kamu jahat kangmas…..
Laras : Kakang, tidak aku sangka ……
Karta : laras, dia ……. Kamu jangan salah paham …..
Begawan : Karta, siapa dia?
Karta : Mohon maaf guru, bukan maksud saya berlaku kurang ajar dan tidak senonoh di padepokan, namun …… perkenalkan beliau adalah ……
Saraswati : Saraswati namaku, kangmas karta tidak bersalah, aku yang memaksa masuk dan menjumpai kangmas karta ketempat ini, terserah kalian mau menilaiku seperti apa. Tapi tidak ada niata apa apa aku ditempat ini selain hanya ingin ketemu dengan kangmas karta.
Begawan : Siapa engkau ?
Karta : beliau adalah …… gusti putri kedung poh, Roro ayu saraswati.
Begawan dan laras terkejut kemudian memberi hormat.
Begawan : Mohon maaf gusti putri maafkan kelancangan kami.
Saraswati : saya yang harusnya minta maaf apabila berlaku tidak sopan, tapi ijinkan saya bertemu dengan kangmas karta
Begawan menarik karta
Begawan : Karta, ada sesuatu antara kamu dengan gusti putri?
Karta : eeeee …. Tidak ada guru, hanya saja …… tidak ada apa-apa guru ….. gusti putri hanya ……
Begawan : ya, ya, ya …….. aku mengerti. Gusti putri, tidak ada alasan hamba melarang gusti putri untuk ketemu dengan murid saya karta, saya sangat tersanjung, namun, langkah baiknya kalau pertemuan itu tidak dilaksanakan ditempat ini.
Saraswati : maksud Begawan?
Laras : Rama, rama itu bagaimana sih, kenapa malah memberikan ……
Begawan : Laras, kamu diam, mohon maaf gusti putri, alangkah baiknya kalau secara pribadi dan tidak ditempat ini, karena apabila ada orang lain mengetahuinya akan berdampak tidak baik gusti putri.
Laras : Rama ……..
Saraswati : Kalau begitu, sekali lagi saya mohon maaf, lalu apa yang harus saya lakukan?
Begawan : saya ijinkan pertemuan gusti putri dengan karta murid hamba, tunggulah karta di pinggiran sungai progo, ditempat itu pemendangan sungguh indah dengan kicau sebagai alunan musik semesta.
Karta : guru, saya tidak pernah berfikir untuk ……
Begawan : tunggulah karta disana gusti putri, hamba tidak akan mengganggu …..
Saraswati : Kalau begitu, terimakasih Begawan, saya mohon pamit, kangmas, aku tunggu ditepian sungai progo, jangan terlalu lama ya kangmas……
Saraswati exit
Laras : Rama, rama sadar yang telah rama lakukan? Rama sama sekali tidak bijak sana dengan keputusan tersebut, laras kecewa dengan rama.
Begawan : Anakku, engkau belum tahu jalan pikiran rama …….
Laras Exit.
Karta : Laras, mau kemana kamu, tunggu dulu ……
Begawan : Biarkan dia, sangat wajar kalau dia seperti itu. Apa kamu juga sudah mulai kawatir dengan dia?
Karta : Bukan begitu guru, tapi ……. Saya juga bingung dengan keputusan guru…
Begawan : hahahaha …… kamu tak perlu bingung, sekarang yang kamu lakukan adalah ……..
Begawan berbisik pada karta.
Begawan : Sekarang engkau tahu bukan maksudku?
Karta : Kalau demikian halnya, demi untuk kepentingan rakyat, hamba akan jalankan tanggung jawab itu, tapi ……
Begawan : Jangan kawatirkan laras, guru akan menanganinya.
Karta : Terimakasih guru, saya mohon pamit, mohon doa restunya ……
Karta exit
Begawan : Semoga kamu berhasil muridku.
Dipinggiran sungai progo.
Saraswati : ternyata sang Begawan tidak seperti yang aku bayangkan sebelumnya, ternyata jiwanya juga muda. Mudah-mudahan kangmas karto cepat datang, benar juga sang Begawan, nyaman juga tempat ini, mudah-mudah juga aman, tidak ada orang lain yang mengerti keberadaanku disini, kalau samapai ramanda tahu bisa bahaya ……
Muncul Karta.
Karta : Gusti putri, maksud saya…. Saraswati ……
Saraswati : kangmas, aku sudah kawatir kangmas akan datang lama ketempat ini, tapi ….. umur panjang kangmas, baru saja aku memikirkan kangmas ….
Karta : saraswati, ternyata secara mendadak ada tanggung jawab yang harus aku kerjakan, dan itu tak dapat ditunda lagi, nampaknya pertemuan sekarang ini tidak akan menghasilkan banyak hal. Jadi barangkali …..
Saraswati : Jadi kangmas akan segera pergi lagi ….
Karta : Sungguh terpaksa, tapi mungkinkah kalau setelah tanggungjawab saya laksanakan kita dapat bertemu lagi?
Saraswati : Sangat bisa kangmas, kapan? Ditempat ini juga?
Karta : besok lusa, ketika cahaya rembulan yang sedang benderang, akan sangat indah apabila dapat kita nikmati bersama. Tapi tidak ditempat ini, tapi di keraton, tepatnya dikeputren ….
Sarawati : benarkah itu kangmas ?
Karta : Tapi ada kendala, untuk masuk keputren harus melalui beberapa gapura keraton yang dijaga sangat ketat, sangat tidak mungkin untuk saya menembus dari pewalan itu, bisa jadi saya malah ditangkap ….
Saraswati : memang benar, lalu harus bagaimana, kalau begitu aku mintakan rekomendasi dari kanjeng rama.
Karta : Tidak perlu, akan berbahaya apabila kehadiran saya malah di ketahui oleh gusti prabu. Namun, barangkali dengan melengahkan para penjaga istana bisa membantu saya sampai kedalam keputren.
Saraswati : eeeeee ….. lalu bagaimana caranya?
Karta : (memberikan bungkusan) campurkan obat ini kedalam minuman para penjaga sebalum saya masuk kedalam istana, kemudian penjaga akan tertidur sebentar setelah meminumnya….
Saraswati : Tidak berbahaya untuk jiw para penjaga to kangmas?
Karta : Tidak, dan sekarang segera saya harus mohon diri.
Saraswati : Baiklah kalau begitu, hari-hati kakang, perintah kakang juga akan segera saya laksanakan.
Karta Exit.
Di gerbang istana prajurit sedang bertugas, waktunya sitirahat malam, embank datang membawa minuman yang sudah dicampur dengan obat tidur, tanpa curiga para penjaga meminumnya, beberapa saat kemudian mereka tertidur. Karta mengendap-endap masuk, mele wait gerbang penjagaan, beberapa saat kemudian keluarsudah dengan bungkusan kemudian exit.
Terjadi keributan ketika diketahui pusaka hilang, parajurit bingung, jayantaka muncul dengan beberapa pengawal.
Jayantaka : Ulah siapa ini? Bodoh semua, apa yang kalian kerjakan? Molor terus! Tidak becus! Pusaka itu adalah nyawa kerajaan ini. Cari, dan dapatkan kembali pusaka tersebut. Jangan sampai kembali tanpa membawa hasil, kepala kalian taruhannya.
Salah seorang prajurit lari tergopoh-gopoh.
Prajurit : Ampun gusti prabu, rombongan sembada dengan bala tentara besar menyerbu masuk kedalam istana.
Jayantaka : Apa ! prajurit siapkan penghadangan ……!!!!
Masuk pasukan Sembada.
Sembada : Jayantaka aku tepati janjiku, untuk merebut pusaka itu darimu, sebelum harus nyawamu kau pertaruhkan, lebih baik kau serahkan secara legowo kitab tersebut.
Jayantaka : Jangan berlagak, bukankah kitab tersebut sudah ditanganmu sekarang?
Sembada : Apa maksudmu?
Jayantaka : Pusaka itu sudah tidak ada ditanganku, kamu akan bertindak licik dengan cara mencurinya?
Sembada : Kau katakana pusaka itu sudah tidak ada ditanganmu? Hahahahaha …… Jayantaka, jayantaka, tidak kusangka, engkau terlalu kerdil, apakah karena kau sudah mulai memperhitungkan kekuatan pasukanku sekarang, kamu takut kalah secara ksatria, sehingga kau menyembunyikan pusaka itu dengan alasan pusaka itu hilang?
Jayantaka : Tidak ada niatan seperti itu, apalagi dengan alasan takut padamu! Kamu sendiri telah merasakan sendiri kekuatanku. Tapi memang pusaka itu telah hilang.
Sembada : Dusta !
Jayantaka : Apa untungnya bagiku!
Sembada : Kalau begitu kau sudah tidak punya hak sebagai raja, turun dari tahtamu!
Jayantaka : Ada tidaknya pusaka tersebut, aku tetap menjadi raja kedung poh, tidak ada yang dapat menghalangi, apalagi hanya seorang sembada!
Sembada : Kurang ajar, engkau penasaran dengan kemajuan pesukanku sekarang? Prajurit serbu …….!!!!!
Terjadi pertempuran seru, masuk karta dengan membawa pusaka.
Karta : Berhenti !!!! atas nama kekuasaan kerajaan kedung poh, lihat, pusaka kedung poh telah ada ditanganku, maka berhenti dan berlutut, untuk kekuasaan yang baru. Raja jayantaka, engkau sekarang sudah tidak mempunyai kekuasaan di kerajaan, maka mundurlah secara terhormat !
Jayantaka : Kurang ajar, jadi kaulah biang kerok atas hilangnya pusaka kerajaan, anak ingusan, kamu tidak layak memegang pusaka tersebut, apa lagi menggantikan kedudukanku sebagai seorang raja, serahkan kembali, atau harus kau tebus dengan nyawamu.
Karta : Tidak ada alasan takut untuk raja durjana seperti engkau
Sembada : hahahaha, hebat akan lebih seru perebutan kekuasaan ini, ayo kita mulai lagi, siapa yang berhak atas kekuasaan itu.
Terjadi pertempuran antara Jayantaka, sembada dan karto yang saling menyerang.
Suatu ketika karto terdesak oleh jayantaka kemudian jayantaka menghunuskan pusakanya kearah karto, namun tiba-tiba muncul saras melindungi, keris membunuh laras, sesaat kemudian dengan kondisi yang lengah sembada bermaksud membokong jayantaka, namun tiba-tiba muncul saraswati melindungi, keris membunuh saraswati. Dengan kemarahan jayantaka menghujamkan keris kepada sembada demikian juga sembada sehingga keduanya juga rubuh secara bersamaan dengan keris masing-masing lawan.
Suasana nglangut, penuh kesedihan
Muncul Begawan
Begawan : Perubahan Negara selalu menimbulkan korban, dan yang mempunyai potensi menjadi korban adalah orang-orang yang tak bersalah, orang-orang tamak akan menjadi korban ketamakannya, entah dengan cara apa. Di negri ini ending dari sebuah kekuasaan selalu tidak berjalan dengan sempurna. Aku relakan anakku sebagai tumbal dari sebuah perubahan, namun aku harapkan perubahan yang akan datang lebih baik dari yang sekarang. Kesalahan tafsir tentang kekuasaan akan memberikan bencana besar kepada rakyat dan negri.
Karta, pelajari kitab tersebut, apabila engkau belum merasa mampu bersikaplah legowo untuk tidak jadi pemimpin, karena tanggung jawab pemimpin tidak ringan. Akan lahir nantinya ratu adil dari kitab tersebut.
Gepeng Nugroho, 08
Terjadi kekacauan dalam kerajaan, perebutan kekuasaan, beberapa kelompok mencari pengaruh, konflik horizontal, peperangan
beberapa orang pembesar bertarung memperebutkan sebiuah kotak pusaka, berlangsung seru, beberapa saat kemudian salah satu diantaranya telah berhasil menguasai kotak pusaka tersebut.
Jayantaka : hahahaha….. stop, (sambil mengangkat kotak wasiat) aku yang telah menguasai pusaka ini, tidak ada alasan untuk tidak tunduk patuh, sembada …… tarik mundur pasukanmu.
Sembada : sial, prajurit ….. mundur! Baiklah jayantaka, aku menjunjung tinggi sportifitas, diawal aturan main telah diberlakukan, pusaka itu sebagai simbul kekuasaan, karena kau yang telah mendapatkan pusaka itu, maka kau berhak atas kekuasaan itu. Tapi ingat satu hal, persoalan kita tidak akan selesai sampai disini, aku tetap masih menginginkan jabatan itu, aku tidak rela kalau keraton Kedung Poh ada ditanganmu jayantaka.
Jayantaka : hahahaha …… lalu kau akan menjadi oposisi, begitu? Itu sudah hal yang biasa, baik kelompok yang kalah akan kemudian mengadakan pembenaran-pembenaran diri dengan menjadi oposisi, selalu mengadakan pertentangan terhadap kebijakan yang dibuat penguasa, politik memang seperti itu sembada, dalam keadaan yang tertekan biasanya orang akan kemudian akn menjadi populis, populislah dulu kalau begitu, untuk mendapatkan dukungan masyarakat.
Sembada : Jayantaka, jaga bacotmu, aku bukanlah seorang politikis, aku ksatria …..
Jayantaka : hahahaha ….. silahkan kamu buat Brand Image pada masyarakat, kamu yakin dengan image ksatri dapat meraih dukungan, ya memang banyak yang berlatar belakan prajurit jadi pemimpin, tapi jangan lupa juga bisa juga kyai, seniman, atau aktifis sosial bisa digunakan senjata untuk mendapatkan dukungan.
Sembada : ( Jengkel ) Prajurit, ayo mundur.
Sembada dan prajurit exit.
Jayantaka : hahahaha ….. sembada, sembada ….. kamu perlu belajar banyak mengenai strategi.
Prajurit : Hidup prabu jayantaka ….!!!!!
Semua pendukung riuh mengelu-elukan prabu jayantaka
Punggawa : maaf Gusti, segera akan kita laksanakan penobatan gusti menjadi raja baru kerajaan kedung poh.
Jayantaka : segera saja, aku sudah tidak tahan lagi menunggu saat-saat itu.
Punggawa : Sendika
Punggawa : Berdasarkan SK kerajaan kedung Poh dan Atas nama seluruh rakyat kedung poh, bersepakat untuk menobatkan gusti prabu jayantaka sebagai Raja yang agung, dengan gelar gusti dyah watu ngambang.
Musik mengalun, semua memberi hormat.
Berok : walah, kementos, petentang-petenteng, terus gagah ngono po? Mbagusi. Durung mesti jedak menjadi pemimpin.
Romlah : walah, ganti raja lagi to? Siap-siap tambah rekasa lagi ini yu, la wong kebijakan-kebijakan yang kemarin saja masih dirasa memberatkan rakyat, ini kok malah sudah ganti orang lagi, pasti akan menambah kebijakan yang konyol lagi
Berok : orang kalo sudah diatas biasanya malah jadi bodho, tidak bijak dalam mengambil kebijakan, ra sembodo ketika dulu sebelum jadi pemimpin. Langkah dan kebijakan yang ditempuh biasanya tidak signifikan dengan program.
Romlah : wes ndak usah dipikir terlalu dalam yu, kamu ndak malah stress.
Berok : yang potensi stress itu bukan hanya aku saja je, termasuk juga kamu dan orang-orang yang ada disini juga punya potensi itu, ketika kemudian orang sudah makin tak kuat oleh himpitan ekonomi, kemudian akan mati rasa, hilang rasa kemanusiaannya.
Romlah : RSJ kebak…..
Berok : Jaman kethoprak durung ono RSJ ….
Musik mengalun.
Permaisuri masuk dengan kebingungan.
Permaisuri : Saraswati….. saras……. Saraswati…..
Emban masuk
Emban : ada apa gusti?
Permaisuri : mbok, dimana bendaramu putri? Seharian ini aku tidak melihatnya?
Emban : anu….. anu …. Nyuwun pangapunten, saya juga tidak mengerti ndara …
Permaisuri : Itu tanggung jawabmu untuk merawat dan mengawasi putriku saraswati. Kau katakan tidak tahu?! Bagaimana pertanggungjawabanmu?
Emban : mohon…. Mohon maaf gusti ……
Permaisuri : tidak hanya cukup itu, tanggung jawabmu temukan keberadaan putriku saraswati
Emban : La kemana ndara?
Permaisuri : malah nanya …..! cari sampai dapat!
Emban : Sendiko gusti ……
Permaisuri exit, diikuti emban
Jayantaka masuk, membuka baju dan atribut kebangsawanannya, diikuti asisten dibelakangnya.
Asisten : wah hebat tadi gaya gusti, dapat memukau. Pidato ekonomi, sosial, budaya nampak begitu cerdas, perlu kita beri reward penyusun naskahnya, program terasa jitu, itu juga tak lepas dari kemampuan gusti dalam berolah peran, acting, sadar panggung dan sadar kamera.
Jayantaka : ya, tapi udara begitu panas, apa AC mati?
Asisten : Memang sengaja dimatikan gusti, sebagai aksi simpatik hemat energi, sedang marak digalakkan.
Jayantaka : lalu bagaimana perkembangan informasi tentang tingkat kepercayaan masyarakat kepadaku.
Asisten : dari survey tim dilapangan sudah mulai terbangun image positif terhadap gusti, tapi memang ada kelompok-kelompok tertentu dan sebagian masyarakat yang terkadang menentang kebijakan yang dibuat. Tapi saya kira itu sangat wajar.
jayantaka : kamu tahu kebutuhan sebagai seorang penguasa semakin meningkat, apabila seseorang sudah dibebani oleh kebutuhan maka akan juga kreatif dalam usaha pemenuhannya.
Masuk permaisuri.
Permaisuri : oh, kangmas sudah rawuh to, selamat datang kangmas, mohon maaf apabila tidak dapat menyambut kehadiran kangmas.
Jayantaka : apakah kau terlalu sibuk?
Permaisuri : sebenarnya tidak juga, namun memang ada tanggungjawab-tanggung jawab tambahan yang harus saya lakukan. Tapi tidak masalah, karena saya sadar tanggung jawab itu ada karena status sebagai istri pejabat.
Jayantaka : tapi jangan lupa aktifitas sosialnya.
Permaisuri : tentu saja kangmas.sebagai seorang istri yang baik, aku selalu mengerti kebutuhan image sosial suaminya.
Jayantaka : itu yang aku maksud, karena selain sebagai ibu istri dan pengelola rumah tangga, engkau juga penpamping tugas suami, kekuatan laki-laki kuncinya ada pada istri.
Permaisuri : terimakasih atas kepercayaan kangmas.
Jayantaka : Tapi dimana putriku larasati?
Permaisuri : eeee … dia…. Eeee ….seharian ini saya juga mencarinya …..
Jayantaka : maksudmu ?
Permaisuri : larasati tidak dijumpai dikeputren.
Jayantaka : apa? Larasati tidak ada dikeputren? lalu dimana?
Permaisuri : eeee …. Sudah saya perintahkan embank untuk mencarinya ….
Jayantaka : hanya cukup seperti itu? Lalu nanti kalau terjadi sesuatu kepadanya bagaimana? Bagaimana pengawasanmu terhadap anak? Jangan kau bilang kau terlalu sibuk sehingga melalaikan anak. Itu sudah tanggung jawab utamamu. Aku tidak inginkan ada image yang muncul “ anak kita terlantar karena kesibukan orang tua” …
Permaisuri : lantas, bagaimana ….. kalau …..
Jayantaka : ah… lambat ….. asisten, perintahkan seluruh prajurit untuk mencari putriku, jangan sampai terjadi apa-apa. Tahu sendiri kalau sesuatu terjadi padanya. Segera laksanakan.
Asisten : baik, sendika gusti ……
Asisten exit.
Jayantaka : ini kesalahan fatalmu, bagaimana kalau ternyata larasati diculik orang? Kamu tidak tahu situasi politik sedang memanas? Larasati bisa saja dijadikan alat politik oleh sebuah kelompok. Apa kamu tidak pernah berfikir sejauh itu?
Permaisuri : eeee… iya… saya tidak berfikir sampai sejauh itu, saya anggap itu soal biasa ketika Larasati pergi dari keputren, karena beberapa kali saya jumpai pputri kita pergi dari keputren tanpa sepengetahuan kita.
Jayantaka : apa? Sudah separah itukah? Kenapa engkau baru menyampaikan itu sekarang?
Permaisuri : ampun kangmas, karena saya pikir …..
Jayantaka : ah ….. tolol ……
Jayantaka Exit
Permaisuri : oalah nduk, ini gara-gara kamu ….. kamui bikin susah orang tua saja. Mudah-mudahan tidak terjadi sesuatu padamu ….
Exit
Sembada dengan beberapa punggawanya
Sembada : kekalahan kita yang lalu sebagai pelajaran berarti bagi kita, kita harus rebut tahta itu, pusaka itu harus berpindah ketangan kita, karena itu adalah simbul kekuasaan.
Umbaran : segala perintah akan hamba laksanakan guna mensukseskan kemenangan itu.
Sembada : tugasmu adalah memindah tangankan pusaka itu, dari tangan jayantaka ke tanganku.
Umbaran : mohon maaf baginda, apa sbenarnya puaka itu, bagaimana bentuknya, dan apa keistimewaan dari pusaka tersebut?
Sembada : setahuku, pusaka itu berupa sebuah kitab sakti, dibungkus rapat oleh sebuah kotak berukir, tidak sembarang orang yang dapat membukanya, karena hanya orang yang mempunyai kesucian laku dan jiwa saja yang dapat membukanya.
Umbaran : lalu selama ini adakah orang yang telah mampu membuka kotak tersebut.
Sembada : Setahuku belum ada ……
Umbaran : termasuk juga para raja yang memegang pusaka tersebut?
Sembada : iya, karena kamu tahu sendiri, belum ada raja yang mempunyai itikad baik, yang ada dikepala dan hati mereka adalah kebusukan.
Umbaran : lalu gusti akan bermaksud membuka kotak pusaka tersebut?
Sembada : hahaha …… kamu membuatku malu, kalau bukan abdi terkasihku kau sudah aku bunuh. Sama sekali aku tidak bermaksud membuka dan melihat isi kotak wasit tersebut, karena aku juga menyadari siapa aku, yang aku butuhkan adalah dapat menguasai kotak tersebut. Dengan demikian aku juga bisa menguasai kerajaan.
Umbaran : maafkan hamba gusti, namun kalau memang demikian yang gusti inginkan, hamba bersedia menjalankan tanggung jawab tersebut, meskipun nyawa taruhannya.
Sembada : bagus, engkau memang abdiku yang setia. Sekarang dengan cara apapun rebut pusaka itu. Munculkan strategi ekonomi, sedikit gangguna keamanan, isu politik, buat masyarakat tidak percaya pada raja.
Umbaran : bagaimana kalau dengan TEROR gusti?
Sembada : eeeemmm …… menarik, tapi sejauh mana tingkat keberhasilan dengan metode teror?
Umbaran : kalaupun belum berhasil pula Plan B kemudian kami munculkan ….
Sembada : baiklah, segala sesuatu aku serahkan kepadamu ……..
Exit
Dipadepokan, saraswati masuk
Saraswati : kangmas karto….. kang ….. kangmas karto …..
Karto masuk
Karto : Lho Gusti putri kok sampai ditempat ini, aduh, ada apa gusti …..
Saraswati : memangnya tidak boleh kangmas? Aku ingin ketemu denganmu.
Karto : Waduh, ditempat ini tidak diperkenankan orang asing sembarangan masuk, apa lagi itu adalah seorang wanita. Lalu darimana gusti putri tahu tempat ini?
Saraswati : tidak sulit bagi saraswati menemukan tempat ini, dan tidak sulit untuk melacak keberadaanmu kangmas.
Karto : Gusti putri saya …….
Saraswati : Jangan panggil aku gusti putri …… saraswati namaku …….
Karto : gusti putri……..
Saraswati : Saraswati …..
Karto : Hamba tidak berani ……
Saraswati : Kenapa tidak berani?
Karto : Karena Panjenengan adalah putri Gusti prabu Jayantaka, raja kami.
Saraswati : apa pengaruhnya terhadapmu?
Karto : Tentu saja sangan berpengaruh, hamba harus berlaku sopan dan senantiasa menyembah kepada gusti putri
Saraswati : Jadi kalau aku memberikan perintah kepadamu kamu berkewajiban melaksanakan bukan?
Karto : benar
Saraswati : Kalau begitu panggil aku saraswati, ini perintah….!
Karto : Saras …. Saraswati ……
Saraswati : Kamu tahu, sebutan itu sungguh indah didengar, dan sudah beberapa waktu lalu aku ingin kau ucapkan dari bibirmu, sejak pertemuan pertama yang mengusikku.
Karto : ampun gusti ….. maksud hamba…. Saraswati ……. Mohon untuk dapat meninggalkan tempat ini karena ……
Terdengar suara dari dalam
Laras : Kakang karto, kang, kang karto ……
Saraswati : ooohhhh….. apakah karena itu kangmas menginginkan aku pergi ?
Karto : Bukan, tapi …..
Saraswati : Tapia pa, kalau begitu biarkan aku tetap disini …..
Karto : Jangan, aduh, aku mohon mengertilah …….. nanti akan…..
Laras : Kakang karto ……
Saraswati : Siapa dia ? istrimu? Kekasihmu?
Karto : Bukan …… sudahlah, mohon gusti putrid… saraswati menyingkr dari tempat ini…..
Saraswati : Tidak mau …….
Karto : Tolonglah …..
Saraswati : Tidak mau …….
Karto menarik saraswati lalu menyembunyikannya.
Laras masuk
Laras : oh, kakang disini to, dari tadi aku mencarimu, apa kakang tidak mendengar teriakanku tadi ?
Karto : Dengar …. Tapi ….
Laras : Kenapa tidak menjawab?
Karto : eeeee…. Anu…..
Laras : Rama mencarimu kang, tidak tahu ada apa, nampaknya ada sesuatu yang sangat penting hendak beliau sampaikan.
Karto : Dimana beliau ….. aku akan kesana …..
Masuk Begawan
Begawan : Kalian ada disini ternyata.
Karto : Guru, mohon maaf guru …. Ada hal apakah guru mencara saya, ada sesuatu yang penting?
Begawan : Tentu saja karto ….. duduklah dulu. Kalian tentu saja mengetahui bagaimana perkembangan suasana kerajaan akhir-akhir ini, makin parah. Terjadi banyak kenakalan, kerusuhan, para petinggi kerajaan sudah dengan kepentingan mereka sendiri-sendiri, rakyat makin sengsara, dengan kebijakan-kebijakan yang sudah tidak cerdas lagi, hanya emosional yang digunakan sebagai pengambil keputusan. Daya beli menurun, harga melambung tinggi, bahkan busung lapar dan gizi rendah diberbagai daerah. Diperkuat lagi kesengsaraan masyarakat dengan akan terus dinaikannya harga BBM dengan alasan yang malah membuka kedok para pemegang kekuasaan bahwa sudah tidak cerdas lagi. Ini menghawatirkan karto, perlu tindakan yang harus segera dilkaukan.
Karto : Lalu maksud guru ……?
Begawan : Aku sudah menganggapmu mampu untuk dapat membuat sebuah perubahan di negri ini, dengan intelektual dan kemampuanmu, guru percaya perubahan itu dapat kau wujudkan. Karto, sebenarnya ada salah penafsiran selama ini bagi para raja dalam mereka menjalankan tanggung jawabnya, mereka menganggap tanggung jawab itu hanya sebatas sebagai kekuasaan.
Kamu tahu, ada sebuah benda yang dianggap sebagai pusaka sebagai simbul kejayaan dan kekuasaan seorang raja pada kerajaan kedung poh?
Karto : Ya, saya juga mengetahui hal tersebut.
Begawan : Lalu apakah kamu tahu apakah benda itu?
Karto : Belum guru …..
Begawan : Itu adalah sebuah kitab, bukan barang yang istimewa, namun ada banyak ilmu sakti yang ada didalamnya, yang apabila orang mempelajarinya orang tersebut akan menjadi manusia yang luar biasa.
Yang orang tahu selama ini adalah hanya unsur luar dan fisiknya saja, namun sebenarnya bukan itu, benda itu tidak berarti apa-apa secra fisik, tidak ada kesaktiannya sama sekali, namun isi yang terkandung didalamnyalah yang dapat membuat orang itu sakti …..
Karto : Maksud guru ……..
Begawan : Tidak ada artinya apa-apa pusaka itu ditangan para raja, karena hanya sebagai pajangan, penghias, pencitraan dan simbol saja, tanpa mereka dapat baca dan amalkan, maka ditangan mereka pusaka itu hanya sebatas pajangan, tidak berpengaruh apa-apa bagi kualitas mereka untuk menjadi raja yang bijaksana.
Karta : Maaf guru, saya masih belum mengerti …..
Begawan : Karta, karta ….. ketahuilah, didalam kitab tersebut terdapat ilmu-ilmu tentang pemerintahan, budaya, sosial dan ilmu lain yang dapat membentuk manusia menjadi sakti dalam emosional, intelektual dan spiritual, memiliki jiwa yang bersih dan bermental seorang pemimpin. Maka barang siapa yang telah memilki kitab tersebut, kemudian mempelajari dan mengamalkan, maka dialah yang dapat menjadi seorang raja yang baik.
Karta : Ya, saya telah mengerti sekarang guru. Lalu apa kemudian yang harus hamba lakukan?
Begawan : Aku perintahkan kepada engkau untuk mengambil kitab tersebut, sayang kalau kitab tersebut tidak digunakan seperti yang seharusnya. Salah persepsinya tentang kitab itu akan semakin memperpuruk generasi ke generasi kepemimpinan kerajaan. Engkaulah yang nantinya harus mempelajari dan meluruskan dari fungsi keberadaan kitab tersebut.
Karta : Tapi …… apakah saya mampu melaksanakan tanggung jawab tersebut?
Laras : Kakang, apabila bapa sudah memberikan tanggung jawab tersebut kepada kakang, tentu saja sudah dengan pertimbangan bahwa kakang mampu untuk melaksanakan tanggung jawab tersebut.
Karta : Tapi laras, bukankah pengawalan di kerajaan sangat ketat ?
Laras : eeeee ….. iya rama, akan sangat membahayakan kakang karta, mohon dipertimbangkan lagi rama ……
Begawan : aku paham, sekarang bagaimana mencari siasat untuk meminimalkan resiko …..
Saraswati muncul
Saraswati : kangmas karta ….. aduh, teganya kangmas memasukkan aku kedalam tempat itu, pengab sekali ……
Karta malu, Begawan dan laras terkejut.
Laras : siapa dia kakang?
Karta : eeee… anu …… dia ……
Saraswati : kangmas, kenapa sih aku harus diumpetin? Apa ada masalah dengan keberadaanku? Kamu jahat kangmas…..
Laras : Kakang, tidak aku sangka ……
Karta : laras, dia ……. Kamu jangan salah paham …..
Begawan : Karta, siapa dia?
Karta : Mohon maaf guru, bukan maksud saya berlaku kurang ajar dan tidak senonoh di padepokan, namun …… perkenalkan beliau adalah ……
Saraswati : Saraswati namaku, kangmas karta tidak bersalah, aku yang memaksa masuk dan menjumpai kangmas karta ketempat ini, terserah kalian mau menilaiku seperti apa. Tapi tidak ada niata apa apa aku ditempat ini selain hanya ingin ketemu dengan kangmas karta.
Begawan : Siapa engkau ?
Karta : beliau adalah …… gusti putri kedung poh, Roro ayu saraswati.
Begawan dan laras terkejut kemudian memberi hormat.
Begawan : Mohon maaf gusti putri maafkan kelancangan kami.
Saraswati : saya yang harusnya minta maaf apabila berlaku tidak sopan, tapi ijinkan saya bertemu dengan kangmas karta
Begawan menarik karta
Begawan : Karta, ada sesuatu antara kamu dengan gusti putri?
Karta : eeeee …. Tidak ada guru, hanya saja …… tidak ada apa-apa guru ….. gusti putri hanya ……
Begawan : ya, ya, ya …….. aku mengerti. Gusti putri, tidak ada alasan hamba melarang gusti putri untuk ketemu dengan murid saya karta, saya sangat tersanjung, namun, langkah baiknya kalau pertemuan itu tidak dilaksanakan ditempat ini.
Saraswati : maksud Begawan?
Laras : Rama, rama itu bagaimana sih, kenapa malah memberikan ……
Begawan : Laras, kamu diam, mohon maaf gusti putri, alangkah baiknya kalau secara pribadi dan tidak ditempat ini, karena apabila ada orang lain mengetahuinya akan berdampak tidak baik gusti putri.
Laras : Rama ……..
Saraswati : Kalau begitu, sekali lagi saya mohon maaf, lalu apa yang harus saya lakukan?
Begawan : saya ijinkan pertemuan gusti putri dengan karta murid hamba, tunggulah karta di pinggiran sungai progo, ditempat itu pemendangan sungguh indah dengan kicau sebagai alunan musik semesta.
Karta : guru, saya tidak pernah berfikir untuk ……
Begawan : tunggulah karta disana gusti putri, hamba tidak akan mengganggu …..
Saraswati : Kalau begitu, terimakasih Begawan, saya mohon pamit, kangmas, aku tunggu ditepian sungai progo, jangan terlalu lama ya kangmas……
Saraswati exit
Laras : Rama, rama sadar yang telah rama lakukan? Rama sama sekali tidak bijak sana dengan keputusan tersebut, laras kecewa dengan rama.
Begawan : Anakku, engkau belum tahu jalan pikiran rama …….
Laras Exit.
Karta : Laras, mau kemana kamu, tunggu dulu ……
Begawan : Biarkan dia, sangat wajar kalau dia seperti itu. Apa kamu juga sudah mulai kawatir dengan dia?
Karta : Bukan begitu guru, tapi ……. Saya juga bingung dengan keputusan guru…
Begawan : hahahaha …… kamu tak perlu bingung, sekarang yang kamu lakukan adalah ……..
Begawan berbisik pada karta.
Begawan : Sekarang engkau tahu bukan maksudku?
Karta : Kalau demikian halnya, demi untuk kepentingan rakyat, hamba akan jalankan tanggung jawab itu, tapi ……
Begawan : Jangan kawatirkan laras, guru akan menanganinya.
Karta : Terimakasih guru, saya mohon pamit, mohon doa restunya ……
Karta exit
Begawan : Semoga kamu berhasil muridku.
Dipinggiran sungai progo.
Saraswati : ternyata sang Begawan tidak seperti yang aku bayangkan sebelumnya, ternyata jiwanya juga muda. Mudah-mudahan kangmas karto cepat datang, benar juga sang Begawan, nyaman juga tempat ini, mudah-mudah juga aman, tidak ada orang lain yang mengerti keberadaanku disini, kalau samapai ramanda tahu bisa bahaya ……
Muncul Karta.
Karta : Gusti putri, maksud saya…. Saraswati ……
Saraswati : kangmas, aku sudah kawatir kangmas akan datang lama ketempat ini, tapi ….. umur panjang kangmas, baru saja aku memikirkan kangmas ….
Karta : saraswati, ternyata secara mendadak ada tanggung jawab yang harus aku kerjakan, dan itu tak dapat ditunda lagi, nampaknya pertemuan sekarang ini tidak akan menghasilkan banyak hal. Jadi barangkali …..
Saraswati : Jadi kangmas akan segera pergi lagi ….
Karta : Sungguh terpaksa, tapi mungkinkah kalau setelah tanggungjawab saya laksanakan kita dapat bertemu lagi?
Saraswati : Sangat bisa kangmas, kapan? Ditempat ini juga?
Karta : besok lusa, ketika cahaya rembulan yang sedang benderang, akan sangat indah apabila dapat kita nikmati bersama. Tapi tidak ditempat ini, tapi di keraton, tepatnya dikeputren ….
Sarawati : benarkah itu kangmas ?
Karta : Tapi ada kendala, untuk masuk keputren harus melalui beberapa gapura keraton yang dijaga sangat ketat, sangat tidak mungkin untuk saya menembus dari pewalan itu, bisa jadi saya malah ditangkap ….
Saraswati : memang benar, lalu harus bagaimana, kalau begitu aku mintakan rekomendasi dari kanjeng rama.
Karta : Tidak perlu, akan berbahaya apabila kehadiran saya malah di ketahui oleh gusti prabu. Namun, barangkali dengan melengahkan para penjaga istana bisa membantu saya sampai kedalam keputren.
Saraswati : eeeeee ….. lalu bagaimana caranya?
Karta : (memberikan bungkusan) campurkan obat ini kedalam minuman para penjaga sebalum saya masuk kedalam istana, kemudian penjaga akan tertidur sebentar setelah meminumnya….
Saraswati : Tidak berbahaya untuk jiw para penjaga to kangmas?
Karta : Tidak, dan sekarang segera saya harus mohon diri.
Saraswati : Baiklah kalau begitu, hari-hati kakang, perintah kakang juga akan segera saya laksanakan.
Karta Exit.
Di gerbang istana prajurit sedang bertugas, waktunya sitirahat malam, embank datang membawa minuman yang sudah dicampur dengan obat tidur, tanpa curiga para penjaga meminumnya, beberapa saat kemudian mereka tertidur. Karta mengendap-endap masuk, mele wait gerbang penjagaan, beberapa saat kemudian keluarsudah dengan bungkusan kemudian exit.
Terjadi keributan ketika diketahui pusaka hilang, parajurit bingung, jayantaka muncul dengan beberapa pengawal.
Jayantaka : Ulah siapa ini? Bodoh semua, apa yang kalian kerjakan? Molor terus! Tidak becus! Pusaka itu adalah nyawa kerajaan ini. Cari, dan dapatkan kembali pusaka tersebut. Jangan sampai kembali tanpa membawa hasil, kepala kalian taruhannya.
Salah seorang prajurit lari tergopoh-gopoh.
Prajurit : Ampun gusti prabu, rombongan sembada dengan bala tentara besar menyerbu masuk kedalam istana.
Jayantaka : Apa ! prajurit siapkan penghadangan ……!!!!
Masuk pasukan Sembada.
Sembada : Jayantaka aku tepati janjiku, untuk merebut pusaka itu darimu, sebelum harus nyawamu kau pertaruhkan, lebih baik kau serahkan secara legowo kitab tersebut.
Jayantaka : Jangan berlagak, bukankah kitab tersebut sudah ditanganmu sekarang?
Sembada : Apa maksudmu?
Jayantaka : Pusaka itu sudah tidak ada ditanganku, kamu akan bertindak licik dengan cara mencurinya?
Sembada : Kau katakana pusaka itu sudah tidak ada ditanganmu? Hahahahaha …… Jayantaka, jayantaka, tidak kusangka, engkau terlalu kerdil, apakah karena kau sudah mulai memperhitungkan kekuatan pasukanku sekarang, kamu takut kalah secara ksatria, sehingga kau menyembunyikan pusaka itu dengan alasan pusaka itu hilang?
Jayantaka : Tidak ada niatan seperti itu, apalagi dengan alasan takut padamu! Kamu sendiri telah merasakan sendiri kekuatanku. Tapi memang pusaka itu telah hilang.
Sembada : Dusta !
Jayantaka : Apa untungnya bagiku!
Sembada : Kalau begitu kau sudah tidak punya hak sebagai raja, turun dari tahtamu!
Jayantaka : Ada tidaknya pusaka tersebut, aku tetap menjadi raja kedung poh, tidak ada yang dapat menghalangi, apalagi hanya seorang sembada!
Sembada : Kurang ajar, engkau penasaran dengan kemajuan pesukanku sekarang? Prajurit serbu …….!!!!!
Terjadi pertempuran seru, masuk karta dengan membawa pusaka.
Karta : Berhenti !!!! atas nama kekuasaan kerajaan kedung poh, lihat, pusaka kedung poh telah ada ditanganku, maka berhenti dan berlutut, untuk kekuasaan yang baru. Raja jayantaka, engkau sekarang sudah tidak mempunyai kekuasaan di kerajaan, maka mundurlah secara terhormat !
Jayantaka : Kurang ajar, jadi kaulah biang kerok atas hilangnya pusaka kerajaan, anak ingusan, kamu tidak layak memegang pusaka tersebut, apa lagi menggantikan kedudukanku sebagai seorang raja, serahkan kembali, atau harus kau tebus dengan nyawamu.
Karta : Tidak ada alasan takut untuk raja durjana seperti engkau
Sembada : hahahaha, hebat akan lebih seru perebutan kekuasaan ini, ayo kita mulai lagi, siapa yang berhak atas kekuasaan itu.
Terjadi pertempuran antara Jayantaka, sembada dan karto yang saling menyerang.
Suatu ketika karto terdesak oleh jayantaka kemudian jayantaka menghunuskan pusakanya kearah karto, namun tiba-tiba muncul saras melindungi, keris membunuh laras, sesaat kemudian dengan kondisi yang lengah sembada bermaksud membokong jayantaka, namun tiba-tiba muncul saraswati melindungi, keris membunuh saraswati. Dengan kemarahan jayantaka menghujamkan keris kepada sembada demikian juga sembada sehingga keduanya juga rubuh secara bersamaan dengan keris masing-masing lawan.
Suasana nglangut, penuh kesedihan
Muncul Begawan
Begawan : Perubahan Negara selalu menimbulkan korban, dan yang mempunyai potensi menjadi korban adalah orang-orang yang tak bersalah, orang-orang tamak akan menjadi korban ketamakannya, entah dengan cara apa. Di negri ini ending dari sebuah kekuasaan selalu tidak berjalan dengan sempurna. Aku relakan anakku sebagai tumbal dari sebuah perubahan, namun aku harapkan perubahan yang akan datang lebih baik dari yang sekarang. Kesalahan tafsir tentang kekuasaan akan memberikan bencana besar kepada rakyat dan negri.
Karta, pelajari kitab tersebut, apabila engkau belum merasa mampu bersikaplah legowo untuk tidak jadi pemimpin, karena tanggung jawab pemimpin tidak ringan. Akan lahir nantinya ratu adil dari kitab tersebut.
Gepeng Nugroho, 08

Tidak ada komentar:
Posting Komentar